BAPETEN Kembali Gelar Diseminasi Iptek Pengawasan Pemanfaatan Tenaga Nuklir di Manado

bara

Seperti juga daerah lainnya, persepsi masyarakat di kota Manado tentang nuklir adalah hal-hal yang tekait dengan bom, peperangan, militer, kerusakan, penghancuran dan sebagainya. Paling tidak demikian yang diperoleh Tim Humas BAPETEN, ketika melakukan wawancara terhadap beberapa peserta sebelum dilakukannya Diseminasi Iptek Pengawasan Pemanfaatan Tenaga Nuklir di Manado, 15 Mei 2018.  Oleh karenanya tepat sekali, bila kegiatan diseminasi ini terus dilakukan, sebagai bagian dari edukasi peblik, untuk mencerdaskan masyarakat, paling tidak memperkenalkan tentang nuklir, kenapa harus diawasi melalui suatu lembaga khusus bernama BAPETEN.

Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama BAPETEN dengan Komisi VII DPR RI yang dilaksanakan di Univeritas Pembangunan Indonesia (UPI) Manado. Hadir narasumber dari BAPETEN,  Kepala Bagian Humas dan Protokol, Abdul Qohhar  beserta tim.  Sementara dari Komisi VII DPR RI dihadiri oleh Bara Krishna Hasibuan, beserta Tenaga Ahlinya.  Sebagian besar peserta adalah dari civitas akademika UPI, yakni, Rektor, Purek, dosen-dosen pengajar, Perwakilan dari dinas Kesehatan Manado serta segenap mahasiswa UPI, yang tatolnya berjumlah 120 orang.

UPI adalah universitas swasta di Manado yang berada dalam naungan  Yayasan Generasi Pembangunan Indonesia. Dalam sambutannya Ketua Yayasan Generasi Pembangunan Indonesia, Frans Hendrik Rende, menyampaikan bahwa UPI sangat berterima kaish atas kunjungan dari BAPETEN ke UPI yang akan memberikan pencerahan terkait nuklir, kepada mahasiswa, dekan-dekan dana para dosen. “semoga kita dapat menyerap materi ini dengan baik, untuk menambah wawasan bagi kita semua”, kata Hendrik

rektor

Selanjutnya Rektor UPI, Debby Christine Rende, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada pihak BAPETEN dan juga Komisi VII DPR RI yang berkenan menyelenggarakan diseminasi ini di kampus UPI, “melalui kunjungan BAPETEN dan DPR RI diharapkan kampus UPI bisa lebih diperhatikan lagi kedepannya, oleh pemerintah pusat” ujar Christine.

Pada sesi presentasi dan diskusi, Qohhar menjabarkan bahwa pemanfaatan tenaga nuklir sudah cukup banyak dan tersebar luas di Indonesia, namun demikian pemanfaatan tersebut menimbulkan risiko bahaya radiasi, sehingga harus diawasi secara ketat agar selamat dan aman bagi pengguna, masyarakat dan lingkungan. Untuk itulah BAPETEN hadir sebagai institusi negara untuk melindungi masyarakat dari bahaya radiasi. Perlindungan tersebut dilakukan melalui tiga pilar fungsi BAPETEN yakni pengaturan, perijinan dan inspeksi.

praktek

Qohhar juga menjelaskan tentang beberapa jenis sumber radiasi serta pemanfaatannya di berbagai bidang di Indonesia, mulai bidang pangan, pertanian, kesehatan, penelitian dan industri. Untuk bidang energi, negara kita belum menerapkan karena belum ada PLTN.

Lalu dijelaskan juga bahwa radiasi itu ibarat makhluk ghoib, karena ia tidak terlihat, tidak berwujud, tidak berwarna dan tidak berbau, namun hanya bisa dideteksi dengan alat khusus. Untuk memberikan contoh tentang efek bahaya radiasi Qohhar memberikan simulasi yang menggambarkan radiasi yang mengenai sel tubuh bisa menyebabkan kerusakan sel dan kromosom yang dapat mengakibatkan mutasi gen atau kerusakan jaringan yagn tidak bias disembuhkan karena akan terus berkembang jaringan yang rusak tersebut.

simulasi

Lebih lanjut, Qohhar menjelaskan bahwa salah satu tujuan diseminasi ini adalah agar  masyarakat ikut berpartisipasi dalam pengawasan tenaga nuklir di Indonesia. “Caranya adalah bila bapak atau Ibu akan dirontgen di rumah sakit tolong tanyakan apakah alat rontgennya sudah ada izin dari BAPETEN, bila sudah ada bisa dilanjutkan untuk dirontgen, tetapi bila belum ada tolong laporkan kepada BAPETEN” tukasnya. “Selain itu juga tolong diperiksa apakah ada stiker dari BAPETEN, yang terdiri dari tiga macam warna, hijau artinya aman dan bisa digunakan, kuning artinya ada administrasi yang harus dilengkapi dan bila ada stiker warna merah, urungkan rontgen di rumah sakit tersebut” kata Qohhar menambahkan.

bara

Bara Hasibuan, yang kebagian menjelaskan di penghujung acara menyampaikan, bahwa sebagai wakil rakyat ia berusaha menjalin kerjasama dengan mitra DPR Komisi VII, agar program-programnya bisa dirasakan oleh masyarakat umum dan juga di daerah-daerah. Ia juga menjelaskan, mendukung sepenuhnya pengembangan teknologi nuklri di Indonesia termasuk bila negara Indonesia harus membangun PLTN. Tetapi memang harus diakui bahwa dalam roadmap pengembangan energi nasional, saat ini lebih diprioritaskan untuk memanfaatkan energi baru dan energi terbarukan lainnya. Isu energi nuklir memang sesuatu yang sensitif dan banyak dipengaruhi oleh infromasi yang beredar dari negara lain. “Informasi tentang kecelakan reaktor Chernobil dan raktor Fukushima di Jepang, jelas sangat memperangaruhi faktor penerimaan masyarakat terhadap rencana pembangunan energi nuklir di Indonesia” ujarnya. Namun demikian , pada saatnya nanti dia meyakini bahwa pemanfaatanan energi nuklir ini tidak bisa dibendung, akibat kebutuhan energi ilstrik yang besar untuk mendukung pengembangan industri nasional. “ Karena itu kegiatan edukasi dan sosialisasi seperti ini harus tetap dilaksanakan, untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat apa itu nuklir, dan apa itu radiasi, serta tahu risiko dan bahayanya” katanya anggota DPR yang lulusan Harvard University ini, menutup sambutannya

bersama lengkap

Melalui diseminasi ini diharapkan informasi tentang teknologi nuklir dan pengawasannya oleh BAPETEN bisa dipahami oleh masyarakat secara lebih luas. (BHO/BSB)

Print Friendly
FacebookTwitterLinkedIn
Copyright BAPETEN | 2015