“Mabuhay Po Tayong Lahat” Mengawali Pertemuan ke-13 ASEANTOM di Manila
Kembali 13 Agustus 2026 | Berita BAPETEN | 20 lihatBAPETEN menegaskan posisi kepemimpinan dan komitmen kuatnya terhadap keselamatan nuklir regional dengan berpartisipasi aktif dalam Pertemuan Tahunan ke-13 ASEAN Network of Regulatory Bodies on Atomic Energy (ASEANTOM) yang diselenggarakan di Manila, Filipina, 11-13 Agustus 2026. Dipimpin oleh Deputi Pengkajian dan Keselamatan Nuklir Haendra Subekti, delegasi Indonesia berfokus pada penguatan upaya kolektif negara-negara ASEAN dalam menghadapi tantangan dan peluang yang berkembang di Kawasan seiring dengan isu ketahanan energi dan ancaman terhadap keamanan nuklir.
Pertemuan yang digelar di bawah Keketuaan Filipina pada ASEAN tahun 2026 ini memiliki urgensi tinggi seiring meningkatnya minat negara-negara ASEAN untuk mengeksplorasi energi nuklir sebagai solusi ketahanan dan diversifikasi energi. Di tengah dinamika geopolitik global yang diwarnai oleh gejolak, ketidakpastian, dan ketakterdugaan (upheaval, uncertainty, and unpredictability), Chair ASEANTOM dalam pembukaan menggarisbawahi urgensi penguatan kerja sama regional untuk menjaga safety, security, dan safeguards, di Asia Tenggara. Melalui ASEANTOM, upaya kolektif ini signifikan dalam menghadapi ancaman nuklir global dan komitmen terhadap Traktat Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ), sekaligus mewujudkan ASEAN Community Vision 2045.
Dalam rangkaian persidangan, delegasi BAPETEN menyampaikan sejumlah intervensi dan kontribusi konkret terkait implementasi Five Years Work Plan ASEANTOM 2024-2028 dan berbagai rencana kegiatan Technical Working Groups (TWGs).
Salah satu perhatian Indonesia adalah penguatan kesiapsiagaan dan komunikasi dalam keadaan darurat nuklir dan radiologi. BAPETEN menekankan bahwa kesiapsiagaan tidak dapat dibangun ketika kejadian sudah terjadi. Sistem, personel, jalur komunikasi, dan koordinasi antarinstansi harus dipersiapkan serta diuji melalui latihan secara berkala. Indonesia juga mendorong penguatan kerja sama pemantauan radiasi dan pertukaran informasi antarnegara ASEAN. Kecepatan memperoleh data yang akurat menjadi sangat penting apabila suatu kejadian nuklir atau radiologi memiliki potensi dampak lintas batas.
Lebih lanjut, BAPETEN menyoroti pentingnya memperdalam kerja sama internasional, termasuk dengan IAEA dan Mitra Wicara ASEAN, guna menyelenggarakan program peningkatan kapasitas badan pengawas. Kemitraan ini dinilai efektif untuk mewujudkan kemampuan badan pengawas yang lebih merata di seluruh negara anggota ASEAN.
Hasil dan kesepakatan yang dibangun melalui Pertemuan Tahunan ke-13 ASEANTOM ini diharapkan memberikan dampak langsung yang berkesinambungan bagi sistem pengawasan ketenaganukliran di Indonesia. Melalui harmonisasi standar, penguatan jaringan komunikasi, dan pertukaran praktik yang baik (best practices) antarnegara, BAPETEN optimis mewujudkan ekosistem pengawasan nuklir yang tangguh demi terjaminnya pelindungan bagi pekerja, masyarakat, dan lingkungan di tanah air maupun di tatanan Asia Tenggara.
Keselamatan tidak mengenal batas negara. Karena itu, kerja sama regional menjadi bagian penting dari perlindungan masyarakat di kawasan Asia Tenggara. One Asia, One Region.[BAPETEN/IndahAnnisa/HaendraSubekti/YL].













Komentar (0)