Akselerasi Transisi Energi, BAPETEN Perkuat Diplomasi Nuklir di Amerika Serikat
Kembali 24 April 2026 | Berita BAPETEN | 23 lihatIndonesia semakin serius menapaki jalur transisi energi bersih dengan memperkuat kerja sama internasional di bidang nuklir. Melalui agenda Benchmarking Visit Ekosistem Energi Nuklir, BAPETEN bersama delegasi lintas kementerian dan badan usaha melakukan kunjungan strategis ke Amerika Serikat pada 20–24 April 2026.
Kunjungan ini menjadi bagian penting dari program Foundational Infrastructure for the Responsible Use of Small Modular Reactor Technology (FIRST)—kolaborasi antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat dalam menyiapkan fondasi pemanfaatan teknologi reaktor nuklir modular kecil (SMR).
Sebagai negara dengan teknologi nuklir maju, Amerika Serikat menjadi salah satu rujukan Indonesia dalam mengembangkan sistem energi nuklir yang aman dan berkelanjutan. Delegasi Indonesia dari BAPETEN, hadir Plt. Kepala BAPETEN, Zainal Arifin, didampingi Direktur Perizinan Instalasi dan Bahan (DPIBN) Nuklir, Wiryono. Hadir pula delegasi dari berbagai kementerian, lembaga, dan perusahaan sektor energi. Para delegasi ini membawa misi untuk memastikan aspek keselamatan , keamanan , dan garda aman menjadi fondasi utama sejak tahap perencanaan.
Dalam rangkaian pertemuan strategis tersebut, para delegasi Indonesia melakukan dialog intensif dengan U.S. Nuclear Regulatory Commission (USNRC) untuk mempelajari arsitektur sistem regulasi yang adaptif terhadap teknologi Small Modular Reactor (SMR). Pendekatan ini dinilai krusial agar Indonesia mampu menghadirkan regulasi yang ketat tanpa menghambat inovasi.
Aspek pembiayaan juga menjadi perhatian penting. Delegasi Indonesia berdiskusi dengan sejumlah lembaga internasional seperti U.S. Trade and Development Agency (USTDA), U.S. International Development Finance Corporation (DFC), dan Export-Import Bank of the United States (EXIM Bank) untuk menjajaki peluang pendanaan.
Lebih lanjut, delegasi Indonesia juga melakukan pertemuan dengan U.S. Department of Energy (DOE) untuk memperkuat keselarasan visi menuju target net-zero emissions tahun 2050, dengan energi nuklir sebagai salah satu pilar utama. Di sektor industri, pertemuan dengan Nuclear Energy Institute serta perusahaan teknologi seperti Westinghouse Electric Company, GE Hitachi Nuclear Energy, dan TerraPower membuka wawasan terkait kesiapan rantai pasok global dan model bisnis SMR yang efisien.
Rangkaian kegiatan ini tidak hanya dilakukan melalui pertemuan formal; para delegasi Indonesia juga melakukan kunjungan langsung ke sejumlah fasilitas penting, antara lain Oak Ridge National Laboratory dan Tennessee Valley Authority, dengan tujuan untuk melihat inovasi riset nuklir terkini, memahami rencana implementasi SMR, serta mempelajari sistem operasional reaktor modern. Pengalaman lapangan tersebut diharapkan memberikan gambaran nyata tentang bagaimana teknologi nuklir dapat diintegrasikan secara aman dengan lingkungan dan infrastruktur.
Dalam forum tersebut, Plt. Kepala BAPETEN, Zainal Arifin, menegaskan bahwa pengembangan nuklir di Indonesia tidak hanya berorientasi pada pemenuhan energi, tetapi juga harus berpijak pada standar keselamatan internasional. “Teknologi nuklir di Indonesia harus dibangun di atas fondasi keselamatan, keamanan, safeguard (garda aman), dan pengawasan yang kuat. Ini adalah bagian dari upaya membangun kedaulatan energi yang bertanggung jawab,” jelas Zainal. Lebih lanjut, Zainal juga menambahkan bahwa kehadiran BAPETEN dalam delegasi ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memastikan pengembangan nuklir dilakukan secara bertanggung jawab.
Kunjungan ini diharapkan menjadi katalisator peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta penjajakan lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia. Sinergi lintas sektor ini menandai langkah penting menuju era energi bersih yang berkelanjutan melalui diplomasi nuklir yang kuat dan terukur. [DPIBN/Wiryono/BHKK/GP]

















Komentar (0)