Banner BAPETEN
BAPETEN Berpartisipasi dalam “Peak of Kinabalu” Nuclear Detection and Response Trilateral Tabletop Exercise (Indonesia–Malaysia-Filipina)
Kembali
IMG-20180809-WA00191-300x225.jpg

Bertempat di Kota Kinabalu, Sabah – Malaysia, pada Selasa hingga Kamis (7 -9/08/2018) diadakan Nuclear Detection and Response Trilateral Tabletop Exercise (TTX) antara tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia, dan Filipina - dengan sandi “Peak of Kinabalu”. TTX ini terselengara berkat kerja sama planning team dari ketiga negara serta dukungan dari International Atomic Energy Agency (IAEA), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Atomic Energy Licensing Board (AELB), dan Global Initiative to Combat Nuclear Terrorism (GICNT), dengan dihadiri oleh observer dari negara Thailand, Amerika Serikat, dan Mauritania.

Direktur Keamanan Nuklir IAEA, Raja Dato’ Abdul Aziz Raja Adnan membuka acara yang dalam sambutannya menggarisbawahi tujuan diselenggarakannya TTX ini yaitu agar masing-masing negara fokus pada peningkatan kapabilitas deteksi nuklir dan respon untuk secara efektif mengatasi ancaman keamanan nuklir terhadap lokasi-lokasi penting di wilayah perbatasan laut ketiga negara. TTX ini kemudian dilanjutkan dengan presentasi mengenai sistem keamanan nuklir nasional dari perwakilan masing-masing negara.

imgkonten imgkonten

Delegasi Indonesia pada kesempatan ini diwakili oleh sepuluh personel (tiga diantaranya merupakan bagian dari planning team) dari berbagai instansi yang merupakan pemangku kepentingan di bidang keamanan nuklir di Indonesia yang berada di bawah payung Indonesia Center of Excellence on Nuclear Security and Emergency Preparedness (I-ConSEP) yaitu Badan Keamanan Laut (BAKAMLA), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), TNI Angkatan Laut (AL), Badan Intelijen Negara (BIN), Detasemen Khusus (Densus) 88 POLRI, dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), serta didampingi langsung oleh Konsul Jenderal RI di Kota Kinabalu.

imgkonten

Selama tiga hari para peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina dihadapkan pada tiga skenario ancaman keamanan nuklir khususnya illicit trafficking di wilayah laut dan tindak terorisme menggunakan zat radioaktif (ZRA). Ketiga skenario ini saling berhubungan, skenario pertama melibatkan pencurian ZRA, skenario kedua melibatkan penyelundupan ZRA tersebut melalui laut, skenario ketiga melibatkan penggunaan ZRA tersebut untuk peledakan dirty bomb oleh pelaku teroris. Peserta tiap-tiap negara berdiskusi di ruang terpisah dengan didampingi oleh fasilitator. Tiap-tiap peserta dari pemangku kepentingan harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari skenario tersebut sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya serta sesuai dengan prosedur yang berlaku di masing-masing instansi. Di hari terakhir diadakan diskusi antar negara dan diskusi panel mengenai outcome yang didapat selama pembahasan ketiga skenario.

TTX ditutup pada 9 Agustus 2018 oleh Direktur Keamanan Nuklir IAEA, sekaligus menyerahkan sertifikat kepada perwakilan peserta dari ketiga negara. Dalam pidatonya, beliau menyatakan bahwa dengan telah diselenggarakannya TTX ini diharapkan ketiga negara, Indonesia, Malaysia, dan Filipina dapat me-review rencana dan strategi kesiapsiagaan nasional dalam merespon ancaman keamanan nuklir yang terjadi khususnya di wilayah perbatasan laut dan area publik.[dkkn/ipe]

Tautan BAPETEN

mkananmenu_2020-12-03-221220.jpg
mkananmenu_2020-12-03-221250.jpg

Feedback

GPR Kominfo

Video

Tautan Internasional

Tautan LPNK