Layanan Publik

mkirimenu_2018-01-26-104911.gif
mkirimenu_2018-01-26-104958.png
mkirimenu_2018-01-26-105029.png

Bapeten Link

mkirimenu_2018-01-26-105102.png
mkirimenu_2018-01-26-105151.png
mkirimenu_2018-01-26-105207.png
mkirimenu_2018-11-15-104059.png

Survei

mkirimenu_2018-01-26-105420.png
mkirimenu_2018-01-26-105524.jpg

Video

FGD Sesi 4 Penyusunan Pedoman Rilis Pasien Kedokteran Nuklir
Kembali 30 Juli 2020 | Berita BAPETEN
small_thumb_2020-07-30-141005.png

Pada hari ini, Kamis (30/07), BAPETEN melalui Pusat Pengkajian Sistem dan Teknologi Pengawasan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif (P2STPFRZR) menggelar Focus Discussion Group (FGD) sesi ke-4 secara online dengan topik implementasi ketentuan rilis pasien (Patient Release) pada kedokteran nuklir. FGD ini dihadiri oleh peserta dari layanan kedokteran nuklir RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, RS Santosa Kopo Bandung, RS Pusat Pertamina Jakarta, RSUP H. Adam Malik Medan, dan RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.

imgkonten

Topik FGD kali ini diangkat untuk mengkaji lebih dalam terkait kriteria rilis pasien yang selama ini dilakukan oleh pihak rumah sakit sebagai bagian dari pembuatan Pedoman Teknis Rilis Pasien (Patient Release) Kedokteran Nuklir.

Kepala P2STPFRZR, Djoko Hari Nugroho, dalam arahannya menyampaikan bahwa pedoman dibuat sebagai panduan bagi rumah sakit dalam merilis pasien yang keluar dari fasilitas kedokteran nuklir, sehingga aman bagi masyarakat sekitar dan keluarga pasien. IAEA juga sudah menyiapkan pedoman rilis pasien dan beberapa negara juga memiliki kriteria rilis pasien. Nilai batasan dalam rilis pasien telah ditetapkan di berbagai negara, sedangkan di Indonesia, kita harus menetapkan kriteria rilis pasien berdasarkan kondisi di Indonesia.

imgkonten

Selanjutnya, Endang Kunarsih selaku Activity Coordinator, dalam paparannya tentang perencanaan kegiatan Pedoman Teknis Rilis Pasien (Patient Release) Kedokteran Nuklir menjelaskan tentang urgensi penyusunan pedoman ini yang salah satunya merupakan potensi risiko terhadap pasien kedokteran nuklir dikarenakan menggunakan zat radioaktif terbuka untuk pasien sehingga potensi insiden radiasi pada pekerja, publik, dan lingkungan menjadi lebih besar (kontaminasi tumpahan zat radioaktif, paparan radiasi dari pasien).

imgkonten imgkonten

Selanjutnya, FGD diisi dengan pemateri dari praktisi rumah sakit kedokteran nuklir Santosa Hospital Bandung Kopo dan RSPAD Gatot Soebroto yang menjelaskan kriteria rilis pasien yang selama ini diterapkan di fasilitas tempat pemateri bekerja.

imgkonten

FGD diakhiri dengan diskusi dan tanya jawab antar peserta rapat yang dipandu oleh Rusmanto selaku moderator. [P2STPFRZR/Hermansyah]


Tautan Lembaga Pemerintah Non Kementrian

mbawahmenu_2018-01-26-112824.pngmbawahmenu_2018-01-26-112839.pngmbawahmenu_2018-01-26-112853.pngmbawahmenu_2018-01-26-112908.pngmbawahmenu_2018-01-26-112923.pngmbawahmenu_2019-02-25-144747.pngmbawahmenu_2018-01-26-113002.png