BAPETEN melalui Direktorat Inspeksi Instalasi dan Bahan Nuklir (DIIBN) menyelenggarakan Peluncuran Bapeten Licensing and Inspection System (BaLIS) Pendora 2.0 dengan tema Peningkatan Efektivitas dan Integrasi Sistem Pengawasan Evaluasi Dosis Pekerja Melalui BaLIS Pendora 2.0 di Gedung BAPETEN Jakarta pada 17 September 2026 serta disiarkan langsung melalui aplikasi pertemuan daring. Acara ini dihadiri oleh Sekretaris Utama BAPETEN Mohammad Ridwan, Direktur DIIBN Lukman Hakim, Plh. Deputi Perizinan dan Inspeksi Zulkarnain dan Direktur Perizinan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif Asep Saefulloh Hermawan. Kemudian hadir sebagai undangan yaitu pengguna izin di bidang medik, industri dan laboratorium dosimetri.
Dalam laporannya Lukman Hakim mengatakan bahwa kehadiran undangan merupakan bukti komitmen dalam menjaga marwah pengawasan ketenaganukliran di Indonesia. Tema peluncuran kali ini dipilih karena dunia pemanfaatan tenaga nuklir ini berubah sangat cepat mulai dari tantangan digitalisasi, pengelolaan data, dosis pekerja radiasi hingga rencana pengembangan BaLIS Pendora 2.0. Transformasi ini tidak boleh dilakukan dengan hanya bersifat sesaat, namun harus berkelanjutan. Sinergi antar unit kerja dan pemangku kepentingan adalah kunci agar pengawasan mampu menjadi pondasi keamanan dan keselamatan nasional demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Kemudian dalam sambutan sekaligus pembukaan acara, Mohammad Ridwan menyampaikan BaLIS sudah dibangun kurang lebih sejak lima belas tahun yang lalu. Ekosistem ini dibangun sebagai upaya untuk memfungsikan BAPETEN sebagai pengawas nuklir yang menjamin keselamatan dan keamanan.Namun dalam hal ini tidak bisa berdiri sendiri karena harus bekerja sama dengan skema pentahelix diantaranya bersama dengan perguruan tinggi, pengusaha, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), instansi pemerintah lainnya dan media. Ditambahkan juga bahwa keinginan BAPETEN adalah memudahkan dan memberikan jalan terbaik bagi industri nuklir baik dalam bidang energi maupun non energi, termasuk dalam penggunaan Nomor Induk Kependudukan yang dapat diintegrasikan ke sistem BaLIS Pendora 2.0.
Agenda selanjutnya yaitu Penjelasan mengenai Pengembangan BaLIS Pendora Ver 2.0 yang dimoderatori oleh Pengawas Radiasi Ahli Muda Agus Dwi Purnomo. Sesi pertama ini disampaikan oleh Pengelola Kegiatan Data dan Informasi Esturini Fitriyanti yang menjelaskan pengertian BaLIS Pendora ver 1.0 dan tujuan pengembangannya serta tahapan singkat dan kelebihan dari ver 2.0.
Pada sesi ke dua dipaparkan mengenai Panduan Permohonan Evaluasi Pemantauan Dosis Perorangan oleh Pemegang Izin dan Pelaporan Hasil Uji Dosis Pekerja oleh Laboratorium Dosimetri oleh Pengelola Kegiatan Evaluasi Dosis dan Lingkungan Rini Suryanti.
Dalam sesi tanya jawab terdapat diskusi mengenai proses dan panduan yang lebih detail di BaLIS Pendora 2.0 dalam hal registrasi pekerja radiasi, isu perlindungan data pribadi, distribusi pemberitahuan transisi input data di versi 2.0, periode waktu penyesuaian data pengguna setelah peluncuran, nomor pekerja radiasi yang dapat digunakan di lebih dari satu fasilitas.
Acara ditutup oleh Lukman Hakim yang berpesan bahwa digitalisasi itu untuk memastikan bahwa setiap proses pengawasan berlangsung lebih akurat, transparansi dokumentasi dapat dipertanggungjawabkan serta diharapkan pengelolaan data dapat diolah menjadi informasi yang bernilai sebagai dasar pengambilan putusan yang tepat.[BHKK/RA/OR/DA/GP]


















Komentar (0)