Layanan Publik

mkirimenu_2018-01-26-104911.gif
mkirimenu_2018-01-26-104958.png
mkirimenu_2018-01-26-105029.png

Bapeten Link

mkirimenu_2018-01-26-105102.png
mkirimenu_2018-01-26-105151.png
mkirimenu_2018-01-26-105207.png
mkirimenu_2018-11-15-104059.png

Survei

mkirimenu_2018-01-26-105420.png
mkirimenu_2018-01-26-105524.jpg

Video

Webinar Pengenalan DRL dan Penggunaan Aplikasi Si-INTAN untuk Modalitas Radiografi Umum
Kembali 01 Juli 2020 | Berita BAPETEN
small_thumb_2020-07-02-080542.jpg

BAPETEN kembali menggelar Webinar Pengenalan Diagnostic Reference Level (DRL) dan Penggunaan Aplikasi Sistem Informasi Data Dosis Pasien (Si-INTAN) untuk Modalitas Radiografi Umum yang diikuti 82 peserta perwakilan dari rumah sakit dan klinik di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua (1/07/2020).

Webinar yang diselenggarakan untuk yang kedua kalinya ini dibuka oleh Kepala Pusat Pengkajian Sistem dan Teknologi Pengawasan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif (P2STPFRZR) BAPETEN Djoko Hari Nugroho. Dalam sambutannya, Djoko menggungkapkan bahwa sudah menjadi tugas kami BAPETEN untuk melakukan perlindungan terhadap pemanfaatan tenaga nuklir di segala bidang untuk menjaga keselamatan masyarakat, pekerja dan lingkungan.

imgkonten

“Kita dari BAPETEN berada di pihak Bapak Ibu semua untuk memberikan perlindungan dari bahaya radiasi bagi para pekerja, masyarakat dan juga lingkungan dalam pemanfaatan tenaga nuklir di bidang kesehatan” katanya.

“Bapak dan Ibu selaku PPR, fisikawan medik maupun radiografer senantiasa melakukan pelayanan kesehatan kepada pasien dan kami dari BAPETEN melakukan perlindungan agar tidak terjadi efek yang berbahaya bagi pasien dan juga pekerja medik” ujar Djoko menambahkan.

Terkait perlindungan terhadap pasien, sejak Tahun 2014, BAPETEN telah mengembangkan Aplikasi Si-INTAN (Sistem Informasi Data Dosis Pasien) dan sudah disosialisasikan di beberapa kota di Indonesia. Aplikasi ini dapat menghitung Diagnostic Reference Level (DRL) pada modalitas atau peralatan radiasi pengion yang dimiliki Rumah Sakit. DRL merupakan nilai dosis yang ditetapkan bersama untuk menjadi panduan dalam memberikan radiasi ke pasien.

Disampaikan lebih lanjut oleh Djoko bahwa sudah beberapa tahun ini BAPETEN memberikan apresiasi atas pelayanan kesehatan yang aktif memanfaatkan Si-INTAN dan tentu saja yang memberikan kontribusi untuk peningkatan efektifitas terkait SDM, prosedur dan modalitas yang dimiliki.

imgkonten

“Apresiasi tersebut bernama Anugerah BAPETEN. Tahun depan yakni Tahun 2021 kembali akan diselenggarakan pemberian penghargaan untuk kategori perlindungan pasien. Penghargaan khusus untuk apresiasi Si-INTAN ini digelar setiap 2 (dua) tahun sekali. Harapan kami, para pengguna yang memanfaatkan Si-INTAN secara optimal nanti terpilih dan dapat kami undang ke Jakarta untuk menerima penghargaan dari BAPETEN” ujar Djoko mengakhiri sambutan pembukaannya.

Pada pertemuan ini disampaikan presentasi tentang pengenalan DRL oleh Pejabat Fungsional Pengawas Radiasi BAPETEN Ida Bagus Gede Putra Pratama serta presentasi dari Pejabat Pengawas Radiasi lainnya Sudradjat tentang penggunaan aplikasi Si-INTAN.

Dalam presentasinya, Tama demikian Ida Bagus Gede Putra Pratama akrab disapa, memaparkan tentang dasar hukum atau landasan DRL, pengertian dan tujuan serta manfaat DRL, baik untuk skala nasional maupun skala rumah sakit.

imgkonten imgkonten

Tama menguraikan bahwa DRL merupakan tool untuk menilai sejauh mana tingkat optimisasi yang telah dilakukan, sehingga berupaya agar dosis yang diberikan optimal dengan memperhatikan citra yang dihasilkan memadai untuk diagnostik.

“Tinggi rendahnya nilai DRL Rumah Sakit bisa disebabkan oleh 3 hal yakni modalitas, SDM ataupun prosedur kerjanya. Ketiganya perlu dievaluasi dan diinvestigasi secara berkala sehingga akan meningkatkan optimisasi dan kemudian diharapkan nilai DRL bergeser ke nilai yang lebih rendah dari DRL nasional, dievalusi lagi sampai kemudian diperoleh nilai DRL yang ideal” tukasnya.

imgkonten imgkonten

Pada sesi pemaparan berikutnya terkait penggunaan aplikasi Si-INTAN, Sudradjat menjelaskan bahwa pemanfaatan aplikasi Si-INTAN oleh rumah sakit akan memberikan citra positif bagi rumah sakit. “Melalui aplikasi ini akan meningkatkan pelayanan kepada pasien dan meningkatkan performance rumah sakit, apalagi dalam menghadapi penilaian akreditasi rumah sakit oleh KARS, tentu saja memberikan kredit poin yang positif” katanya.

Sudradjat menguraikan secara detail tata cara penggunaan Si-INTAN dan mempraktekannya secara on-line kepada peserta webinar. “Biasanya kami melakukan praktek langsung saat sesi tatap muka, tetapi karena kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, praktek penggunaan Si-INTAN hanya dilakukan secara online, semoga bisa dipahami”, jelasnya.

imgkonten

Acara yang dipandu oleh Kepala Bidang Pengkajian Kesehatan P2STPFRZR Rusmanto berakhir melebihi alokasi waktu yang telah disediakan, hal ini karena banyaknya pertanyaan yang timbul dalam acara ini. (bhkk/bams).

Tautan Lembaga Pemerintah Non Kementrian

mbawahmenu_2018-01-26-112824.pngmbawahmenu_2018-01-26-112839.pngmbawahmenu_2018-01-26-112853.pngmbawahmenu_2018-01-26-112908.pngmbawahmenu_2018-01-26-112923.pngmbawahmenu_2019-02-25-144747.pngmbawahmenu_2018-01-26-113002.png